ASSALAMU'ALAIKUM Wr.Wb
buatmu yang sedang berbahagia. Terimakasih telah meletakkan luka didalam hatiku yang paling dalam selamanya.
Hari itu aku pernah memberimu sepucuk surat untuk sahabatmu yang aku cintai, namun aku tidak tahu apakah surat itu sampai di tangan sahabat baikmu itu. Karena hari itu aku mendapat balasan dari wanita yang kucintai tersebut membalas suratku dengan kata-kata yang ku anggap guyonan. Sahabatmu itu meminta agar kami berteman saja, alasannya simpel tapi menyakitkan hatiku. Ternyata sedikit cintapun tak ada di rasakan hatinya, ternyata sama sepertimu juga. tapi aku terus perjuangkan, demi harkat martabat wanita yang sering membuat cobaan kepada lelaki. Termasuk aku aktor utamanya. tersenyum menghadapi hal itu, walau hati dalam kekacauan.
Berselang hari surat itu tak ada lagi. Aku menunggu balasan SMS saat kalian pulang ke medan tempat kalian menempuh ilmu kesehatan, kelak kalian akan mampu mengobati segala penyakit. Namun aku gagal untuk mempertahankan cinta sahabatmu itu dengan alasan ia lebih memilih berteman denganku, bukan mencintaiku lagi. kamu tau alasannya kenapa? aku haya mendengar bahwa aku kurang mampu dalam ekonomi dan pendidikan. Hari itu aku terluka sedalam-dalamnya, berharap ada obat luka hati yang menjualnya. ternyata ke dunia manapun dicari takkan dapat sekalipun.
Disitulah engkau datang bercerita tentang dia, bagaimana keseharian dirinya, darimu aku dapat kabar ternyata dibalik cinta kami ada orang ketiga yang ia cintai. aku sangat berterima kasih padamu, bahwa kenyataannya tidak seperti itu. padahal aku tak sedikitpun menanti kabar tentang dia, cuman engkau saat itu berani curhat padaku, dan engkau sangat yakin bahwa aku bisa menitipkan kisahmu padaku. Pada malam itu telah kutemukan obat dari kiriman lewat BBM. Engkaulah obat itu. Aku sangat percaya bahwa perasaanmu saat itu ada padaku, meski aku telah memilih ingin hidup sendiri tanpa siapapun, melupakan dia dengan memohon pada tuhanku, aku ingin sendiri buat menangis dihadapan Rabby ku. Rupanya tuhan telah menitipkan hatimu padaku, agar menjaga perasaan dan menerima cintamu, bahwa aku adalah lelaki terbaik buatmu. Aku rela menyimpan namamu dari telinga sahabatmu itu demi menjaga persahabatan kalian berdua. sebagaimana engkau menjaga perasaanmu sendiri.
Kisah asmara masa lalumu pernah engkau ceritakan, semua itu kusimpan rapi didalam hatiku walau itu menyakitkan, bagaimana kisah hidupmu yang rindu akan memanggil “ibu”. Aku sangat bahagia saat engkau sempat berbicara dengan umakku menanyakan kabar umakku ba’da magrib. Selepas kalian teleponan aku menceritakan tentangmu pada merka berdua, ayah dan umakku, tapi aku tidak pernah bercerita tenatang pendidikanmu pada mereka, sebab merka tak faham tentang pendidikan yang tinggi. mungkin kamu tau jawabannya, sangat bodoh seperti aku.
Dibalik itu aku telah bersiap diri untuk semangat terus perjuangkan cinta ini. Karena aku telah percayakan juga perasaanku padamu untuk hidup selamnya. Egkau pernah berangan-angan agar anak kita kelak cukup dua saja, tapi aku menolak sebab itu urusan Allah, engkau ingin membuka klinik prakteknamun aku hanya bisa memberimu semangat. Tiga tahun kita menjalin hubungan erat lewat hati, via telephon tak pernah ada celah di antara kita berdua, hanya saja terkadang saat aku berada di sebuah kampung pedalaman tak ada jaringan membuat hubungan kita jarang berkomunikasi.
Tapi hari ini engkau bahagia di atas dukaku. Engkau telah berhasil membalas dendammu. Engkau telah membuatku seperti perpustakaanmu saja, menyimpan kertas-ketas usang hingga lapuk tak pernah di baca. Namun itu kusimpan hingga menjadi abu. Kamu tau bahwa aku menulis diary tentang perjalanan cinta kita, tapi kamu tak sedekitpun memberi nilai di lembaran halamannya karena kamu memang tidak tau. Semua postingan foto-fotomu di facebookmu, ku ambil lalu kusimpan baik, namun aku tak tau apakah kamu benar mencintaiku hanya di bibirmu saja.
Aku memang tidak punya uang seperti yang engkau harapkan bahwa aku harus memiliki uang untuk mendapatkanmu. Jika engkau benar mencintaiku berarti bukan karena uang. Aku merasa ter tampar kutukan saat engkau memintaku untuk menikahimu secepatnya. Cinta dan hati nuraniku telah di kalahkan oleh uang. Padahal engkau tau bahwa saat ini aku bekerja tidak berpenghasilan yang menjanjikan kebahagiaan hidupmu. Semua ini kusalahkan diriku karena dipandang kurang berpendidikan, kurang kaya, dan tak siapa-siapa.
Aku pikir tak perlu menyimpan fotomu lagi, atau kenangan curhatan-curhatan itu, membuatku makin tersiksa. Izinkan aku untuk menghapus tentangmu dalam hidupku, karena kau bukan lagi manusia yang berarti dalam hidupku. Selamat menempuh hidup baru, jadilah wanita paling bahagia selama hidupmu. Sangat ada lagi lelaki yang engkau sakiti, cukup aku saja, karena kamu telah berhasil membalas dendam mantanmu untukku, itu kusimpan, dan takkan mengembalikannya padamu.
Hiduplah bersama calon suamimu yang engkau pilih, karena itulah yang muncul dalam istikhorohmu, jadilah seperti muti’ah yang mendapat sanjungan wanita pertama kali masyuk syurga, atau seperti khodijah ummul mu’minin, sebab wanita yang baik akan mendapatkan suami yang baik. layanilah suamimu meskipun ia menyakitkan kan bagimu. Belajarlah terus mencintai sesuatu yang diamanahkan padamu, seperti engkau mencintai para pasienmu yang terbaring di tilam klinik. Aku ikhlas dan ridho jika itu memang rezeki terbesarmu dari Allah. Karena dialah hadiah terindah, dialah manusia yang bisa membahagiakan hidupmu.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatnya bagi kalian berdua yang saling menyintai selamanya.
TERIMAKASIH SEMUANYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar