SEMANGAT YANG HILANG - 27 Juni 2018
| Foto: Mahdian Tamin Rangkuti |
Hari-hariku penuh dengan gelisah. Mengungkit masa-masa kejayaanku membua hati ini tergores sayatan zaman yang mutagoyyar. Dalam diriku ini sulit untuk istiqomah menjalani pekerjaan yang serius sekalipun, hingga membuatku beberapakali jatuh bangkit dan terjatuh lagi hingga aku tak bisa bangkit lagi. Inikah namanya diriku yang tidak bersyukur atas karunia dan nikmat yang di amanahkan Allah padaku. yang pasti hati ini terombang-ambing bagaikan buih yang tak dipedulikan lautan.
boleh saja aku katakan sangat mudah bagiku mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan duniaku, tapi lebih mudah lagi bagiku menghilangkannya hingga aku mendapat penyesalan yang abadi, inilah yang selalu ku ingkit-ungkit dan merengek kepada Tuhan kenapa dengan diriku, dan lebih banyak menyalahka Tuhan dengan mengatakannya dalam hati ini bahwa tuhan meninggalkanku, bukankah sebenarnya diriku ini yang jauh darinya.
Beberapa hari ini ayah sering mengeluhkan pekerjaanku yang tidak menjanjikan di Radio. kutau bahwa pekerjaan ini hanya menyalurkan bakatku saja. selain itu ini juga jawaban do'aku tahun lalu saat di kamar kost ruko tempatku menjahit di taylor faridah, bekasai. berangan-angan jadi artis tapi hati ini di kampung nan jauh dari ibu kota. disitulah ku bisikkan dalam hati ini suatu saat aku ingin jadi penyiar Radio. ternyata setelah jadi penyiar inilah tantangan hidup yang diberikan Tuhan padaku dan aku tidak tau harus bagaimana menghadapi keluargaku yang seolah menuntutku untuk cari pekerjaan yang layak dan menghasilkan uang.
Entah bagaimana aku bisa bertahan dan tak mudah bosan dengan suatu pekerjaan berapapun hasil yang kuterima dari pekerjaan tersebut. dimanakah letak kebahagiaan itu sehingga aku tak gelisah setiap saat. Apalagi yang bisa untuk aku lakukan selain mencoba melanjutkan hidupku. Seluruh kekuatan telah kupertaruhkan tapi hasilnya belum samasekali berbuah kebahagiaan. entah apa sebenarnya yang kucari di dunia ini selain kesenangannya saja, ingin bahagia tanpa ada tantangan hidup.
Bukan saja Umak yang sering mengeluhkan pekerjaanku. sembari mengungkit-ungkit gaji yang pernah kuperoleh dari pekerjaan sebelumnya, umak bilang aku tak seperti dulu lagi yang bisa menyisakan uang utuk belanja bulanan mereka bahkan beli baju untuknya sekalipun berharga murah. Jangankan beli baju bahkan sering kaleng beras kosong hampir tak makan. untuk saja warung memberikan umak berhutang tapi dimana kudapatkan pelunas hutangnya. ini membuatku tambah bingung.
Ayah sering kuperhatikan belakangan ini, ia memaksakan dirinya membutuhi kehidupan keluargaku sehari-hari, padahal semangat ayah telah pudar namun ia bersikeras mencari isi perut sandang pangan kami setiap hari. kutahan tangisan ini di dalam batin paling mendalam. aku satu-satunya harapan mereka untuk mengangkat derajat yang lebih layak tapi aku tak sekuat ayah. tak mampu mencontoh semangat ayah. aku benar-benar berdosa masih menikmati pencarian keringat ayah seharusnya keringatku yang terkuras, bukan ayahku yang sudah tua saat ini.
4 Agustus 2018
Aku melihat ayah sedang duduk di bangku depan rumah tanpa asap rokok. ia duduk melepas penatnya seharian mencari uang, karena uang segalanya dalam hidup, membuat repot. itulah yang ayah alami di sore itu. Ayah berjalan kesana kemari bersama telapak kaki yang dilapisi sandal swallow kuning yang sudah beberapa kali di Ikat dengan tali plastik. Akibat motor karisma ayah rusak inilah yang membuatnya berjalan kaki.
Aku menelan tangisan lagi memandangi ayah dari pintu, wajah ayah seolang ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa ditebak. yang pasti ayah tak bergairah tanpa asap rokok kebiasannya saat duduk seperti itu. Seolah tak ada yang mau berkawan dengannya lagi apalagi beberapa hari ini ayah tidak hadir di lopo kopi. hutang rokoknya sudak menumpuk di beberapa warung, yang korban jadi tambahan hutang umak di catatan bon.
Akun tau ayah berbohong untuk melunasinya segera agar masih diberikan penjual. terkadang ayah mengandalkan namaku kalau sudah gajian nanti. orang percaya karena melihatku memakai seragam Radio. atau bahkan ayah mengatakan gabung saja ke hutang umak yang menumpuk disitu, hutang makanan kami sehari-hari. miris hatiku mengetahuinya dari umak, jika pemilik warung tersebut menagihnya di awal pekan. di awal pekan umak masih menambah hutang lagi, menanggung malu yang sangat besar, harga diri yang dipertaruhkan, menunggu orang-orang yang berduit dulu di layani baru umakku yang hendak berhutang.
Aku, ayah dan umak belum ada pekerjaan yang menjanjikan kebutuhan sehari-hari. umak selalu bilang jangan tinggalkan solat. ini yang membuat kita melarat sepanjang masa. biasanya memang ayah dapat proyek bangunan, paling tidak dapat persenan order batu-bata sekilo beras. saat ini ayah terlihat murung dan patah semangat kebanyakan diam, bungkam bolak balik dapur halaman entahlah ayah kehilangan apa.
Tadi pagi ayah menayak umak soal pekerjaanku sekarang. sekaligus menanyapa kenapa aku tidak lagi memberikan uang pada ayah seperti biasanya. umak menerangkan bahwa aku tidak lagi bekerja seperti dulu. dan umak jelaskan aku tidak bekerja di radio tapi menyalurkan bakat, mencari pengalaman. dan umak mengatakan jangan memaksakan kehendakku. umak selalu membelaku dihadapan ayah dan orang-orang yang bertanya tentang pekerjaanku sekarang.
ayah menyapa seolah mengundang pertengkaran pada umak, buat apa aku bekerja seperti ini, harusnya mencari pekerjaan yang menghasilkan bagi keluarga. bukan seperti ini, bahkan ayah mengatakannya padaku hampir aku angkat suara dengan nada tinggi merasa diriku tak tertahan lagi emosi yang memuncak tentang status pekerjaanku yang memang tidak membanggakan mereka, hati ini mennagis tak melawan seorang ayang yang kusayangi. karena aku sebenarnya yang salah.
disitu rasanya ingin kupergi jauh menuruti keinginan ayah tapi aku menghargai perjuangan umak yang berjuang walau berhutang membayar kuliahku. umak ingin kuliahku tidak putus lagi. umak kasian padaku yang telah gagal kuliah dua kali
Beberapa hari ini ayah sering mengeluhkan pekerjaanku yang tidak menjanjikan di Radio. kutau bahwa pekerjaan ini hanya menyalurkan bakatku saja. selain itu ini juga jawaban do'aku tahun lalu saat di kamar kost ruko tempatku menjahit di taylor faridah, bekasai. berangan-angan jadi artis tapi hati ini di kampung nan jauh dari ibu kota. disitulah ku bisikkan dalam hati ini suatu saat aku ingin jadi penyiar Radio. ternyata setelah jadi penyiar inilah tantangan hidup yang diberikan Tuhan padaku dan aku tidak tau harus bagaimana menghadapi keluargaku yang seolah menuntutku untuk cari pekerjaan yang layak dan menghasilkan uang.
Entah bagaimana aku bisa bertahan dan tak mudah bosan dengan suatu pekerjaan berapapun hasil yang kuterima dari pekerjaan tersebut. dimanakah letak kebahagiaan itu sehingga aku tak gelisah setiap saat. Apalagi yang bisa untuk aku lakukan selain mencoba melanjutkan hidupku. Seluruh kekuatan telah kupertaruhkan tapi hasilnya belum samasekali berbuah kebahagiaan. entah apa sebenarnya yang kucari di dunia ini selain kesenangannya saja, ingin bahagia tanpa ada tantangan hidup.
Bukan saja Umak yang sering mengeluhkan pekerjaanku. sembari mengungkit-ungkit gaji yang pernah kuperoleh dari pekerjaan sebelumnya, umak bilang aku tak seperti dulu lagi yang bisa menyisakan uang utuk belanja bulanan mereka bahkan beli baju untuknya sekalipun berharga murah. Jangankan beli baju bahkan sering kaleng beras kosong hampir tak makan. untuk saja warung memberikan umak berhutang tapi dimana kudapatkan pelunas hutangnya. ini membuatku tambah bingung.
| Ayah lagi duduk diruang tamu bersama kami berbagi cerita indah dan memintaku cari kerja |
Ayah sering kuperhatikan belakangan ini, ia memaksakan dirinya membutuhi kehidupan keluargaku sehari-hari, padahal semangat ayah telah pudar namun ia bersikeras mencari isi perut sandang pangan kami setiap hari. kutahan tangisan ini di dalam batin paling mendalam. aku satu-satunya harapan mereka untuk mengangkat derajat yang lebih layak tapi aku tak sekuat ayah. tak mampu mencontoh semangat ayah. aku benar-benar berdosa masih menikmati pencarian keringat ayah seharusnya keringatku yang terkuras, bukan ayahku yang sudah tua saat ini.
4 Agustus 2018
Aku melihat ayah sedang duduk di bangku depan rumah tanpa asap rokok. ia duduk melepas penatnya seharian mencari uang, karena uang segalanya dalam hidup, membuat repot. itulah yang ayah alami di sore itu. Ayah berjalan kesana kemari bersama telapak kaki yang dilapisi sandal swallow kuning yang sudah beberapa kali di Ikat dengan tali plastik. Akibat motor karisma ayah rusak inilah yang membuatnya berjalan kaki.
Aku menelan tangisan lagi memandangi ayah dari pintu, wajah ayah seolang ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa ditebak. yang pasti ayah tak bergairah tanpa asap rokok kebiasannya saat duduk seperti itu. Seolah tak ada yang mau berkawan dengannya lagi apalagi beberapa hari ini ayah tidak hadir di lopo kopi. hutang rokoknya sudak menumpuk di beberapa warung, yang korban jadi tambahan hutang umak di catatan bon.
Akun tau ayah berbohong untuk melunasinya segera agar masih diberikan penjual. terkadang ayah mengandalkan namaku kalau sudah gajian nanti. orang percaya karena melihatku memakai seragam Radio. atau bahkan ayah mengatakan gabung saja ke hutang umak yang menumpuk disitu, hutang makanan kami sehari-hari. miris hatiku mengetahuinya dari umak, jika pemilik warung tersebut menagihnya di awal pekan. di awal pekan umak masih menambah hutang lagi, menanggung malu yang sangat besar, harga diri yang dipertaruhkan, menunggu orang-orang yang berduit dulu di layani baru umakku yang hendak berhutang.
Aku, ayah dan umak belum ada pekerjaan yang menjanjikan kebutuhan sehari-hari. umak selalu bilang jangan tinggalkan solat. ini yang membuat kita melarat sepanjang masa. biasanya memang ayah dapat proyek bangunan, paling tidak dapat persenan order batu-bata sekilo beras. saat ini ayah terlihat murung dan patah semangat kebanyakan diam, bungkam bolak balik dapur halaman entahlah ayah kehilangan apa.
Tadi pagi ayah menayak umak soal pekerjaanku sekarang. sekaligus menanyapa kenapa aku tidak lagi memberikan uang pada ayah seperti biasanya. umak menerangkan bahwa aku tidak lagi bekerja seperti dulu. dan umak jelaskan aku tidak bekerja di radio tapi menyalurkan bakat, mencari pengalaman. dan umak mengatakan jangan memaksakan kehendakku. umak selalu membelaku dihadapan ayah dan orang-orang yang bertanya tentang pekerjaanku sekarang.
ayah menyapa seolah mengundang pertengkaran pada umak, buat apa aku bekerja seperti ini, harusnya mencari pekerjaan yang menghasilkan bagi keluarga. bukan seperti ini, bahkan ayah mengatakannya padaku hampir aku angkat suara dengan nada tinggi merasa diriku tak tertahan lagi emosi yang memuncak tentang status pekerjaanku yang memang tidak membanggakan mereka, hati ini mennagis tak melawan seorang ayang yang kusayangi. karena aku sebenarnya yang salah.
disitu rasanya ingin kupergi jauh menuruti keinginan ayah tapi aku menghargai perjuangan umak yang berjuang walau berhutang membayar kuliahku. umak ingin kuliahku tidak putus lagi. umak kasian padaku yang telah gagal kuliah dua kali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar