Facebook
: Mahdian Tamin Rangkuti WhatShapp : 081362670771
Hal terind
bagiku adalah hidup di pesantren al-azhar. hidup di
dalam gubuk sederhana yang kami sebut pondok. lain dengan fatayat (putri) ber
asrama, fokir (putra)juga ada. semua serba sendiri, yang rame hanya di kelas
dan di musholla saja selebihnya kalu ngumpul bareng bin kombur, momen terindah
sangat banyak yang ingin kuceritakan selama tujuh tahun di dunia pesantren
al-azhar, persahabatan, kenakalan, sedih, tawa dan air mata. pesantren gratis
ini akulah salah satu peminat besar menimbah ilmu dunia akhirat. berikut aawal
kisahnya "kawan":
Usai
makan malam. Ba'da magrib kebiasan di rumahku bahkan ba'da isya
, ayah menarik sebatang rokoknya dari bungkus Once,dan membakarnya di api lampu
teplok buatan kakekku sebelum umakku jadi yatim. Salah satu kerajinan tangan
kakekku ini sangat berjasa buat cucunya seolah turun temurun ibarat benda
pusaka pertiwi,padahal Cuma terbuat dari botol M-150, kemudian kain katun buruk
dimasukkannya kelobang sumbu dari tembaga odol pepsodent. Agar terlihat cantik
dan menarik, supaya penerangan lampu minyak tanah ini menyebar cahayanya pada
setiap sudut ruangan rumahku berlantai tanah yang di lapisi dengan tikar padi
ini, nenek pahat seruas bambu berbentuk gelas bir, dan bawahnya sepotong balok
ukuran 15 cm panjangnya,dan lebarnya 10 cm lebih kurang. kemudian di pakukkan.
Umur
lampu ini lebih tua dari tannggal pernikahan ayah dan umak, karena sebelum umak
beranjak dewasa lampu ini sudah tercipta, lampu ini pertama kali di temukan
oleh jauhum,dialah nama kakekku dari pihak umak, meskipun tak tercatat di buku
rekor dunia, maupun hak paten pusaka indonesia, sebelum negara lain
mengklaimnya, kurasa lebih afdol hari ini lampu teplok yang satu ini asli MADE
IN INDONESIA van Mandailing.
Lain
halnya tradisi umak kalau sudah selesai makan. Biasanya Menyuruh salah satu
kami mengambil parang dan pinang,
‘;’;’;’gendut_kodir_irham_bayo_hadi....
Eh .... Ma rempot sude bo.
Pas
umak sadar kesilapannya. Kami pun terpingkal-pingal, padahal yang disuruh umak
_aku) , akhirnya jejeran nama-nama kami ikut terseret berantakan.
Hanya
gara-gara mengambil buah pinang yang mengering di bawah tempat rak piring,
karna aku masih makan, antara aku dan kodir saling melontarkan pandangan. Bola
mata kami berguling-guling kiri kekanan, melirik tajam dan adu bahu, saling
menyuruh mengelakkan perintah umak yang merasakan lidahnya kaku ,
bahkan
bertengkar seperti pejabat negri yang saling menuduh kasus suap bin korupsi,
pada saat ini hanyalah itu news tayangan tv. Masing-masing kami bela diri
sendiri merebut kata :
Au
Sajo #selalu aku”.
tapi
karna ada keluhan yang sulit untuk ku ungkapkan pada ayah dan umak, kuberanjak
dengan wajah seribu keriput kedapur sambil merepet.
Seratus
persen aku tak yakin, kalau ayah bisa mendengarkan keluh kesahku ini, juga
umak. palingan mereka terdiam dengan seribu kata membisu, sebab abangku pun
dulu saat berada diposisi ini, berakhir campak kejakarta, mengadu nasib ke
ibukota paling kejam sedunia itu.
Tapi
malam ini, ayahku sepertinya kecapean, seharian kerjanya hanya buruh tidak
tetap sama seperti umak ,sedangkan ayah hanya mencari kayu bakar untuk pesanan
toke batu-bata atau kuli bangunan. kadang ada. paling tidak, sama sekali
capeknya saja . begitu pula umak, yang menggarap disawah orang, Itupun kalu
musim panen padi, atau mencangkul kembali. berangkat jam enam pagi, pulang
setengah tujuh, artinya mulai terbit matahari. hingga terbenam kembali.
23
juni 2003 ,
Wali
kelasku bapak NIJAR, S.pd mengumumkan bahwa
penerimaan ijazah kelas enam tahun ini pada tanggal 23 juni 2003. Hasil dari
rapat koordinasi para guru di kantor, sesuai dengan surat keputusan dinas
pendidikan, yang disampaikan oleh kepala sekolah SD Inpres No.147893 jambur
padang matinggi kepada pegawainya, oleh Bpk.Drs.Roy Ronggur.
Sebelum
bapak nijar datang membawa pelajaran kami, biasanya kelas kami tak pernah sepi
dari paduan suara ujuk kebolehan, kenapa tidak, kalu si ismail melemparkan
kapur ke arah rasyid, meskipun bertubuh kecil pendek dan pintar itu ia tak diam
harus membalas dengan penghapus papan tulis. Pada akhirnya jatuh kemeja si
pahmi tepat di atas gambar getek yang ia rancang bercrayon merah marun.
Emosinya menjadi-jadi karna merusak karya kesayangannya, melempar balek ke arah
belakangnya tepat mengenai ermayani yang mengincar-incarnya. Pengen tau nggak
kawan, si fahmi yang kehidupannya penuh dengan perahu, bukan saja melukisnya,
membuat propertinya pun ia lihai, hanya dengan modal ranting kapas dipotong
sepanjang 20cm diameternya 22cm, lalu ujung kiri kana kayu di runcingkan bentuk
peraku, kemudian potong lurus bagian bawah dan atasnya datar. Selanjutnya
diukir bagian atasnya sampai berbentuk perahu. bagian belakanya di lobangi
sebesar lidi gunanya untuk tempat dinamo bekas. Sambungkan kipas yang terbuat
dari potongan gelas air mineral bekas
Sementara
aku di atas bangku posisi pertama dari pintu kls 6B meja dua, aku sibuk sendiri
melukis-lukis dan menggambar kaligrafi islam lafazd wal’asr model ikan PR ku
nanti harus dibawa ke sekolah arab madrasah GUPPI sambil mendengarkan kawan
kawan yang sibuk cerita kemana mereka menyambung setelah menerima ijazah nanti.
Saat
ini aku tak ada harapan tak seperti temanku lainnya. Mereka sudah sibuk
menceritakan kemana mereka lanjutan. Ada juga diantara mereke sekolah dengan
pilihan orangtuanya tapi lebih banyak pilihan mereka sendiri, Bahkan si saddam
terbang-terbang yang kami kasih julukannya itu sudah masuk testing ke
musthofawiyah purba baru, pesantren terkenal sedunia itu. Pantas saja bahwa
ayahnya bolak balik ke malasya naik garuda indonesia, pernah katanya pesawat
tumpangan ayanya jatuh, ayahnya selamat karna terbang , bahkan paling dongeng
abanya pernah telan biji duren dan tumbuh sampai berbuah hingga panen,
menurutku wajarlah ia masuk pesantren agar ngak ngar lagi .
Ada
juga yang ikut keluarganya ke ibu kota jakarta. Juga ke kota lainnya,
selebihnya ke SMP negri momopang. Sekolah impian banyak orang masa kini sebelum
banyak sekolah seperti sekarang. Aku benar-benar mimpikan sekolah itu, yahhhh
SMP mompang.
Sangat
tekad niatku untuk menduduki kursi smp mompang. Apalagi mendengar nama-nama
gurunya yang di singkat, sampe-sampe lekat di benakku nama ibu AS, aku tak tau
siapa dan bagaimana ibu ini, aku ingin sekali mengenalnya, begitu juga sampul
buku-buku pelajarannya menggiurkanku aku ingin sekali mempelajari buku kimia,
biologi, fisika dan bahasa inggiris karna selama aku di esde tak pernah
pelajari buku ini, namun uanglah yang mengatur.
jika
aku sekolah smp mompang biaya ongkos pulang balik tiap hari dapat dimana,
sedangkan minta jajan ke dekolah sama umak saja jarang dapat bukan karna umak
pelit atau ayah kikir tapi seperti yang umak bilang " di ambang komu langa
napature epeng au" artinya umak bukan industri duit kecuali butuh duit
seperti lagu yang tenar ditahun ini oleh abanganda alam. justru itu wajib
sekali bawa airmata kesekolah tiap pagi berangkat sekolah karna minta jajan,
seratusss aja.
Sangat
tekad niatku untuk menduduki kursi smp mompang. Apalagi mendengar nama-nama
gurunya yang di singkat, sampe-sampe lekat di benakku nama ibu AS, aku tak tau
siapa dan bagaimana ibu ini, aku ingin sekali mengenalnya, begitu juga sampul
buku-buku pelajaran buku di sltp itu menggiurkanku. ingin sekali mempelajari
buku kimia, biologi, dan fisika.serta mendalami ilmu bahasa inggris, karena pelajaran
baru ini baru masuk di SD kami akhir semester 2003, beberapa bulan lagi
kami sudah jadi alumni dan takkan pernah belajar bahasa inggris lagi
kecuali menyambung sekolah lagi. pelajaran kami masih menghafal focabulary
anggota tubuh, setelah menghafal abjad dan nama benda yang ada di kelas,
pelajaran ini sangat encer dibanding pelajaran lainnya di otakku, kalau
bahasa inggris akulah murid kesayangan bapak nizar.
hari
ini cuaca agak mendung di langit sekolah dasar inpres jambur padang matinggi dengan
nomor 147893. senam pagi tetap di laksanakan di halaman sekolah sampai bubar
barisan. sebelum memasuki kelas terlebih dahulu kami baris, begitulah instruksi
dari bapak nizar diperintahkannya ketua kelas kami si ridho.karena hari ini
adalah hari spesial bagi kami calon alumni 2003, yaitu hari tenang. bapak nizar
memasuki ruangan kelas seperti biasanya senag gembira dan menyenangkan, dialah
sosok guru yang sangat kreatif bagi kami, pemberi semangat juga tegas dalam
megambil keputusan, bapak ini suka dengan hal-hal yang kreatif, beliau memnga
efesien sekali. meskipun beliau humoris tapi dia tetap kami segani.
bagiku
hari ini memang menyenangkan. tapi hari ini ada hal yang mengganjal di dalam
pikiranku setelah pulang sekolah saat bapak nizar mengumumkan "kita
perpisahan dengan semua guru-guru sd inpres ke Aek sijornih, dengan ongkos
Rp.4000/orang pulang balek ditambah uang lauk Rp.1000/orang dimasak
bersama di sekolah dan nasi bawa masing-masing, kemudian bawa kayu bakar dua
potong/orang dan kita berangkat di hari sabtu nanti karena mulai hari ahad
sampai senen depan kita libur khusus kelas enam "horeeee" bukan bersedih,
malah senang mereka yang ngak tau perasaan ini. aku hanya bisa menceritakannya
pada umak
"umak
hari sabtu perpisahan ami, jadi pembayaran ongkos dohot gule Rp.5000"
"nagkon
dohot tu aek sijorni bia langa"
umaka
menawar supaya aku tidak usah ikut ke aek sijornih soalnya uang adalah
permasalahan dalam keluarga, uang adalah penghambat segalanya, uang adlah
nyawa, dan uang memang membuat yang penting jadi tak berguna, makanya da lagu
DUIT di populerkan oleh pedangdut Alam mbh dukun.
"
tapi umak wajib dohot ning bapak i sude"
"
jadi idia doma ipar jolungan epengna"
"tapi
idokkon bapak i se naso dohot, inda ilehen ijazah nai umak" mohonku.
"anggo
songoni manaru majolo dai tu batu-bata ni alakan so adong epeng, au inda adong
epengku boto, iambang komu sajo do namanuali epengi" terang uamak .
Dengan
nada rendah,umak menyuruhku untuk cari kerja ke batu-bata supaya ada uang biar
ikut ke aek sijornih.sementara simonang udah menangis ngambek cuman umak
bilang kalau kami berdua tidak usah ikut dulu, ia merajuk karena dia pikir
uangnya di tahan umak atau dipake, uangnya memang sekali sebulan dikirim etek
dari banggua, jadi dia tinggal bersama nenek dan makan bersama kami, makanya
umak yang memengang uangnya. umak bilang kalau mau ikut ngak apa-apa, soalnya yang
umak simpan uangnya ngak pernah dipakai untuk kebutuhan keluarga sekalipun
kepepet. sementara aku harus libur dulu sekolah arab, pulang sekolah sd buka
baju dan celana di dalam sarung, gantungkan di paku karatan, lalu makan pake
daun ubi yang sudah di peras habis kuahnya ulah sikodir memilih ikan asin,
tekstur daun ubi terlihat angker bersama kepala ikan asin yang sudah hancur,
membuatku kecewa, dan ingin rasanya melempar kodir dengan tutup panci.
Berat
rasanya meninggalkan pelajaran sekolah madrasah guppi, apalagi hari ini
pelajaran tarekh dan akhlak bersama ibu itu dan PR nahu shorof dengan bapak.
Gara-gara aek sijornih aku harus rela tinggalkan pelajaran ini. Padahal belum
beberapa bulan saya masuk sekolah arab, karena IQ agak lebih encer di sekolah arab
di banding SD. Jadi aku sangat semangat menggali ilmu agama mulai dari kecih
hingga aku dapat rangking delapan, sementara aku masuk di semester akhir dan
naik kelas dua.
Hari
ini aku sudah di bangsal mamak zainuddin rambe. Dengan goni yang dilipat sebagai
alas punggungku biar tak mengapa, menyusun batubata sebanyak 20 biji di atasnya
kemudian digendong sampai ke pembakarannya. Menuruni jalan kiri-kanan jurang
curam diantara lubang-lubang galian tanah tempat melunakkan tanah “parloncaan”
kami sebut namanya. Gajinya yang tak seberapa kerjanya luar biasa sakit dan
deritanya. 100 biji batu bata bayarannya masih Rp.1000 menargetkan supaya dapat
ongkos ke aek sijornih harus 500 batu-bata. Betapa sakitnya Selama menggendong
batu-bata penuh semangat, keringat bercucuran, seluruh tubuh berkapur, lutut
gemetar, jemari hancur dikikis tajamnya pasir batu-bata kering ini. Tak tahan
rasa beratnya menggendong batu-bata ini, batu itu lepas jatuh menimpa kaki,
berdarah tetap kubangkit lagi, dua liter air sumur habis diminum kering dari
jeriken. Haus dan panas adalah yang harus ditahan dan dipertahankan demi ongkos
aek sijornih.
Dengan
modal sabar, menjelang magrib saatnya istirahat “manaru”. Baru menjumpai toke.
mamak zainuddin memberikan upah yang tak seberapa itu. Walaupun capek, tapi
saat menerima gaji lebih dari target Rp.5000 rasanya sangat bahagia, uang yang
kudapatkan hari ini tak lupa memberikan storan pada umak sekalian menyimpankan
ongkosku nanti dan menyisakan sedikit jajan di SD sebab kalau tidak hari senen
aku tidak pernah jajan seumur-umur. hari ini gajiku kemaren aku baru bisa
membeli mie lidi goreng, rasanya bagi kami sangat enak walaupun etek umak
parisah penjual jajanan sekolah SD itu merendam mie lidi cap harimau dengan air
hangat semalaman, lalu menggorengnya kemudian ditambahkan bumbu cabe, garam,
udang, sedikit maricca, rasanya enak. Suaranya dimulut bikin kriuk-kriuk.
Tinggal
beberapa hari lagi kami beangkat, aku semakin semangat manaru batu-bata, supaya
jajan di aek sijornih agak lumayan longgar. Tapi aku tak mau lagi libur sekolah
arab, jika aku berhenti sekolah arab gara-gara cari uang berarti aku memang bodoh
karna uang sekolah dibayar perminggunya Rp.1000 kalau tidak ada uang beras pun
boleh sekaleng susu cap nona atau cap tiga sapi.
Dimadrasah
juga memang sangat banyak jajanan, hamper aku tidak pernah punya uang jajan
walaupun hari senen kalau bukan karna di bandari si toharuddin, tak pernah aku
makan keripik sambal kuah sate, atau mungkin kalau bukan karena kami akrab
dengan si aisyah aku tak dapat jeruk manis gratis yang dikasih cabe campur
gula. Sebenarnya aku akrab berteman dengan siapa saja, dari kelas dua hingga
kelas tiga semua akrab denganku, jadi aku tidak perlu bawa uang jajan ke
sekolah arab, kalau memang si tohar tak bawa uang, istirahat habis sholat asyar
kami pergi ke rumah neneknya menghabisi buah jambu atau menyicipi makan yang
ada didapur neneknya yang tinggal di kilang padi, dia pun berani karena ayahnya
yang mengoperasikan kilang padi dekat aek bingke itu.
Hari
sabtu telah tiba
Hari
yang ditunggu-tunggu, meskipun acara hari ini memasak-masak persiapan ke aek
sijornih, kami tetap di wajibkan memakai seragam, acara demi acara berlangsung,
ibu-ibu guru kami mempersiapkan segalanya ada yang mengiris bawang,
memotong-motong ayam, mengupas kentang. Bapak guru kami memperbaiki tungku, dan
sebagian mengarahkan kami untuk membuat suatu kegiatan , ada hiburan menyanyi
tepuk pramuka dan sebagainya, setelah gulai siap dimasak dan disantap nantinya
di aek sijornih, salah seorang guru sudah mengundang angkot carteran di hari
sebelumnya, sambil menunggu angkot datang, kamipun sudah berkemas biar langsung
berangkat nantinya.
Hari
ini juga kami berangkat meninggalkan mata-mata adek kelas kami yang tergiur
untuk ikut bareng ke sijorni, inilah rasnya jadi abang-kakak kelas, wali kelas
enam masing-masing ikut dan sebagian bapak ibu guru, karna masih ada satu les
mata pelajaran lagi maka guru yang tidak sempat ikut mengurus adek keas kami
kelas 1 sampai 5.
Jemari
tangan kami dari jendela bon terbuka ramah dan riuh, melambaikan tangan tanda
kegembiraan dari gerbang SD hingga habis perbatasn simpang jambur, sejenak kami
berhenti menunggu ibu eva menjemput anak bungsunya si pinayungan, bayi yang
selalu jadi piket kami mengayunnya jika jam istirahat saat walikelas kami ibu
eva di kelas empat tahun 2000 “tembak kariting”. Masih sampe disitu, aku yang
jarang nanik mobil, apalagi bau minyak angkot BON ini, membuat perutku mual
sementara mereka bergembira habis-habisan seperti cina karam kata bapak waktu
mengaji malam. Tangan meteka tak habis melambaikan sampe penghujung jambur
padang matinggi. Coba saja di siramram masih ada perkampungan, pasti semua
habis di lambaikan mereka.
Seperti orang paok anak-anak SD inpres ini setelah
sampai ketujuan, rata-rata pada lenong semua, bapak-ibu guur kami jadi ngekeh
melihat anak-anaknya pada oyong semua, hanya sebentar dikasih istirahat. yang
baru pertama kali ke aek sijornih ini, mulutnya menganga seperti orang sial,
melihat inilah aek sijornih itu, termasuk aku salah satunya, dan aku bertanya
pada Emrina :
“onma
aek sijorni I, ison ma ita maridi, natagian dope uida di batang gadis taan pado
dison, manyosal au dohot”
“
indaba, indu do dabo Idaho do na I dolokan”
Aku
pikir sungai batang angkola itulah aek sijornih, setelah kutanya si emrina,
rupanya air yang terjun dari bukit batu kapur sana, aku sungguh kolot, ternyata
aek sijornih itu benar yang di bilang si emrina air terjun terlihat indah dari
daun-daun kelapa lalu jatuh ke sungai batang angkola, memang jelas beda
warnanya, sungai batang angkola berwarna tanah liat, sementara aek sijornih,
wahhh benar-benar seperti namanya.
Kami
segerombolanpun saatnya meniti jembatan gantung aek sijornih, barang-barang
bawaan di bagi ibu eva pada kami satu-satu, aku dapat bawa kerupuk dan bapak
nizar membawa gulai ayam rending campur kentang itu, aromanya bikin perutku
lapar, tapi di atas goyanagan jembatan gantung ini, aku jadi oyong terbalik
kesana-kemari, ditambah aku takut dengan ketinggian membayangkan sungai itu
mengincar nyawaku, memgang kawat pertama ke kawat lainnya seperti perjalanan
seribu tahun, perasanku sudah berada di cerita “sirotolmustaqim” yang
diceritakan ibu sekolah arab saat belajar juz ‘amma.
Tak
mampu lagi ku menaklukkan penyeberangan ini, aku duduk diatas jembatan,
teman-teman lainnya dibelakang mendesak, untung bapak nijar mengambil barang
bawaanku dan memegang tanganku menyeberang di atas titian kematian ini. Sambil
ketawa bapak nijar:
“hahaha,,,
ala leh amang mahdian, krupuk dope obanonmu, di pangan lana so habis”
guyonan bapak nijar yang masih muda belum beruban membuat guru lain dan
teman-teman ikut tertawa, setelah sampai di seberang, al-hamdulillah. Bukan
saja aku yang menjerit hamper semua cewek-ceweknya menjerit, si nur azizah
menangis-nagis tika kriting juga dan lainnya. Ada juga bilang “ayamu”
saat dia di cowok-cowoknya menggoyang jembatan.
Seharian
kami menghabiskan waktu, ibu guru melarang kami jajan sembarangan, alih-alih
ada juga yang melanggar, dipikir mereka jajan di aek sijorni tidak enak,
rupanya harga yang dimaksud ibu guru. Makanya tadi sebelum seberang bapak nijar
menganjurkan kami jajan dulu, nanti disana biar tidak jajan, dan mereka tidak
bilang harga karena menghargai penjual yang disini. Mereka yang tidak percaya
malah merasa rugi, kami beli Borobudur RP.50 mereka dibandrol Rp.100.
mandi
dmenikmati sejuknya aek sijornih, dimana ada orang berfoto kami pasti
perusaknya ikut-ikutan walupun kena cahaya lampu kodaknya saja. Rupanya bukan
kami saja yang berlibur dan perpisahan kesini, SD dalan pun ikut juga disini
mereka lebih awal 1 jam disbanding kami, kami mengenali mereka karena satu
kelas di sekolah arab madrasah guppi, masing-masing kami memiliki kepuasan
tersendiri, setelah menikmati makan siang dengan rending masakan cheff ‘ala
guru kami, liburan pun berakhir, karna mulai senen sudah saatnya libur panjang
menunggu hasil ujian LULUS/ TIDAK LULUS.
23
juni 2003 ,
Inilah
saatnya hati berdebar-debar menunggu hasil pendidikan selama 6 tahun di sekolah
dasar, bagiku yang sudah delapan tahun menunggunya lebih kencang kobaran
detaknya, jangan sampai aku tidak lulus meski sempat dua kali aku tidak naik
kelas. Kini saatnya Wali kelasku-wali kelas kami bapak NIJAR, S.pd
mengumumkan bahwa penerimaan ijazah kelas enam tahun ini tepat hari ini pada
tanggal 23 juni 2003. Hasil dari rapat koordinasi para guru di kantor, sesuai
dengan surat keputusan dinas pendidikan, yang disampaikan oleh kepala sekolah
SD Negeri No.147893 jambur padang matinggi kepada pegawainya, oleh Bpk.Drs.Roy
Ronggur. Bahwa angkatan :
“angkatan
2003, al-hamdulillah semuanya dinyatakan LULUS”
setelah
itu kami, dengan hati yang bahagia karena lulus. berkumpul di belakang lapangan
sekolah, mengadakan acara pemberian kado untuk semua guru-guruku tersayang yang
mendidik, mengajar kami selama di SD tercinta, seluruh calon alumni berbaris
rapi seperti upacara hari senen, seorang adek kelas atas nama fauzi sebagai dirjen
bagi kami hari ini untuk kami iringi membawakan lagu yang di ajarkan ibu
erniati atau akrab kami sapa ibu eva TERIMA KASIH GURU:
Dm
C
Terima
kasihku ku ucapkan
Bb
Am
Pada
guruku yang tulus
Gm
Bb
Ilmu
yang berguna selalu dilimpahkan
C
Dm
Untuk
bekalku nanti
Dm
C
Setiap
hariku dibimbingnya
Bb
Am
Agar
tumbuhlah bakatku
Gm
Bb
Kan
ku ingat selalu nasihat guruku
C
Dm
Terima
kasihku guruku
Dm
C
Terima
kasihku ku ucapkan
Bb
Am
Pada
guruku yang tulus
Gm
Bb
Ilmu
yang berguna selalu dilimpahkan
C
Dm
Untuk
bekalku nanti
Dm
C
Setiap
hariku dibimbingnya
Bb
Am
Agar
tumbuhlah bakatku
Gm
Bb
Kan
ku ingat selalu nasihat guruku
C
Dm
Terima
kasihku guruku.
Merinding
rasanya bulu kuduk ini senada menitikkan airmata, ketika menyanyikan lagu ini,
inilah rasanya berpisah dengan yang tiap hari kita sayangi, kadng kita sakiti
hati mereka dengan kelakuan yang berbeda, inilah saatnya kita meninggalkan
mereka dan meyerahkan kembali tanggung jawab pendidikan kepada orangtua
masing-masing, lagu ini masuk ke alam bawa sadar seolah rohnya masuk kerelung
hati, sepertinya berpisah dengan guruku tercinta laksana merenggut nyawa. Tapi
apapun alasannya, jawabnya ini adalah baru awal perjuangan, bagaimanakah
perjuangan selanjutnya apakah permintaanku menyambung sekolah ke SMP mompang
dapat terpenuhi ayah, atau ke darul istiqomah yang pernah ayah angan-angankan
aku sekolah disana sebagai balas budi direkturnya pada ayah yang pernah
menyelamatkan nyawanya di tahun yang silam, atau sama sekali tidak lagi
menyambung sekolah, hanya membantu umak tiap hari ke sawah, berkebun, atau
merantau ke ibu kota jika ada orang yang membutuhkan berdagang. Semua ini aku
harap ayah dan umak menjawab cita-citaku dimana pun sekolahnya aku rela asal
jangan pengangguran, sebab pengangguran itu bagiku bukanlah orang yang tidak
dapat kerja memburu dollar, tapi pengangguran yang sesungguhnya ialah orang
yang tidak sekolah.
Menatap diam ayahku tak beralamat ridho kalau aku menyambung sekolah lagi, kutau
cita-cita ayah tak sebatas itu untuk diriku, karna kutau rezeki si anak itu
jalurnya melalui orangtua, khusus dari ayah sebagai kepala rumah tangga, bukan
gk sanggup tapi kurang bernyali, ayah takut sekolahku putus ditengah jalan
seperti abangku yang pertama, adakalanya trauma, lantaran semua sudah habis
harta, sekolahnya berakhir di kelas lima, umak menyesali itu saat mendengar keluh kesahku yang ingin
bersungguh-sungguh menuntut ilmu kesekolah manapun.
Umak tak mau kalau aku hanya tammatan SD saja
seperti pengalaman umak di tahun nostalgia ingin sekolah di tempat pendidikan
islam (TPI) dalan lidang panyabungan, setidaknya lulus dari situ bisajadi Guru atau Penjahit baju sebagai cita-cita yang lama umak tanamkan dalam hatinya, disekolah ini memiliki fasilitasnya. Pernah kata umak waktu mereka
di madrasah ibtidaiyah pangkat ditesting mengenai pelajaran-pelajan agama,
nilai tertinggi pun di raih umak dengan rata-rata memuaskan, gurunya bilang
kalau umak pasti diterima di musthofawiyah purba baru langsung kls-2, itulah mimpi
umak yang tertunda. Kata kakek umak takkan
sanggup walau uang spp ditanggung gurunya, bagaimana dengan belanja. Umak
mengerti dengan ekonomi yang sulit apalagi tinggal di desa terpencil yang
jarang mengenal kemajuan zaman. Sedangkan sandal jepang-jepit bertahun-tahun
baru telapak kaki umak seperti syurga yang dirindukan. Bertahun-tahun batu
tulis umak dapat terganti setelah ludah umak hampir kering menghapus catatan
pelajaran les pertama sampai ke tujuh buat catatan baru.
Begitulah perjuangan umak menempuh pendidikan berjalan tanpa alas kaki dari
pangkat ke pasar maga, gadis mungil ini berjalan mendaki bukit menuruni lembah
dibawah semak belukar berangkat pagi kembali kerumah setelah terbenam matahari,
berlari dengan rok mengejar jejak abangnya yang jauh didepan bersama
sekelompok petani kadang kala teman sekolah. Tak jarang mereka barengan karena
mengejar jam pelajaran. langkah kaki umak masih pendek, nafasnya terkuras habis
seperti jeriken airnya , pada jam istirahat baru sempat umak menyantap nasi
hampir basi dengan sepotong ikan asin bakar dibungkus dengan daun pisang elus.
Kesabaran umak dalam menuntut ilmu, mungkin saat itu hari keberuntungan umak, suatu ketika
umak mendapat hadiah dari kakek, batu tulis baru setelah 5 tahun berlalu duduk di bangku SD. Seperti momen yang sama, jam yang sama, cuaca yang sama , embun-embun
masih nyangkut di tor aek banir. umak
berangkat sekolah bersama kebahagiaan berbunga-bunga melati seperti
pagar rumah pusaka ketika mengambil batu tulis dari haronduk pandan duri
anyaman dengan beberapa potong kapur biasa di pungut umak bersama kawan-kawannya sepulang sekolah sisa-sisa kapur di bawah papan
tulis waktu kebersihan sebelum pulang kerumah setelah lonceng bubar. Matahari
hampir lelah, ngantuk seharian menyinari seluas dunia. Lepas genggam sapu umak
langsung tancap lari mengejar orang-orang yang duluan pulang meninggalkan
sekolah, setidaknya ikut gerombolan petani dibawah farmasi burung-burung
kelelawar. Terlalu cepat kaki umak melangkahkan lari, ia jatuh tersungkur
ketanah, batu tulis melepaskan diri dari tas kadangan, hampir retak
sedikit terkeping. Kebahagian umak berubah sedih ditengah jalan menyeramkan
itu, suara kodok sahut menyahut, tangisan burung pilu, monyet-monyet menakutkan
melompat dari pohon keranting pohon lain, umak tak menyaksikan anak-anak
belalang berhamburan dari atas daun talas lagi seiring matahari sembunyi di
balik gunung merapi. meskipun menkautkan, umak lebih takut lagi kalau nenek tau
tentang batu tulis baru sudah rusak. Dikelas jauh antar pangkat dan maga tak berujung sekolah tulangku
abang umak bertengkar dengan gurunya sebab tak merasa adil kalau gurunya tak
hakim memutuskan suatu perkara kecil. Akhirnya tulang berantam dan berhenti sekolah
di kelas 6 SD tak sabar menunggu jatuhnya bulan mengakhiri pendidikannya dengan
lembaran ijazah. Disitulah umak juga berakhir tak sekolah lagi hanya duduk
dibangku kls 5 SD saja.alasan umak saat kutanyak kenapa tidak lanjut sampai
tammat. Karna ompung sayang sama umak tak membiarkan putrinya jalan sendiri di
tengah hutan tanpa mahram.takut ompung kalau kenapa-kenapa di jalan tak ada yg
bisa menolong umak jika itu muslihat manusia. Walaupun ompung sebagai kepala
desa tanpa pamrih saat itu, tapi kalau sudah ancaman datang di tengah jalan
orang tak tau kalau ana siapapun itu.
Aku
hanya berkeras kepala tidak ingin hanya sampai di SD saja tamatanku setidaknya
SMA udah cukup dan selanjutnya baru tanggung jawab diriku aku yang menanggung.
Hati dan pikiranku menulis sejuta angan-angan. Bagaimanapun rasa sakitnya
tinggal jauh dari orangtua tanpa belanja dan kurang mampu, aku tetap sekolah.
Brosur gratis biaya itu masih terselip didalam tasku merek UD. INTISARI tulisan
dibawahnya saya masih ingat meskipun panjang seperti ini:
Menjual
pakaian Pria dan wanita, celana, kaos, baju, dll
Alamat.
Panyabungan NO telp.........
Mungkin
anda berpikir kalau ayahku pemilik grosir. Padahal kawan-kawanku ngejek tasku
itu plastik baju lebaran.
Dan
isi brosur itu slalu ku tautkan pembicaraanku pada umak sebelum tidur,
"Mak.
Sekolah di buya itukan gratis uang spp sama daftarnya"
"Ia,
tapi klo makan kann tetap dari rumah, kalau kamu dagang di pesantren, kompor
lagi, priuk, kuali, pakaian sekolah dan buku-bukumu kann mmebeli juga".
"Ya...
Bersakit-sakitlah saya dulu mak, atau tanyakan sama buya itu apa bisa berulang
kerumah untuk makan saja"
"Kalau
kamu pulang balek kerumah, pelajaranmu tinggal dari teman-temanmu, berkahnyapun
kurang dapat".
Mata
umak mulai ngantuk dari suara menguapnya terdengar capek seharian di kebun
pasir bulu, aku dan umak menanam ubi kayu dengan harapan umak kalau akau jadi
sekolah di pesantren buya bagas bisa membantu keuanganku dari hasil ikatan
sayur yang unak kumpul-kumpulkan seribu perak perharinya. Besok pun kami akan
berangkat kepasir bulu menanam kacang tanah dan jagung lahan milik orang tepat
dipinggir sungai batang gadis. Kalau saja sugai besar bisa-bisa hasil tanaman
kami tak sampai panen.
Aku
belum putus harapan untuk tetap sekolah dipesantren itu, meskipun SMP mompang
di tolak umak mentah-mentah dan tak sudi aku menimbah ilmu disana, pilihan
hanya dua yang pernah ayah tawarkan sekolah AL-azhar atau Istiqomah
sebelum aku tamat sekolah, dan saat itupun masih kelas 5 SD, dan pada saat ini
tak ada harapanku naik kelas 6 karena di kelasku jumpa lagi dengan ibu eva yang
sudah dua kali aku ditinggalkannya kelas 2 dan 4, tapi aku berusaha menjadi murid
kesayangannya dan menunjukkan kalau aku punya talent, tak takut lagi dengan
matematika yang sempat kubuat puisinya;
"Matematika
Mate-maita
Ro
ibu eva
Monjap
maita
Ulang
sanga
Manghormat
bendera
Mulai
jam pertama
Sampe
mulak sikola"
Matahari
pagi menyapa pintu dapur rumah kami, saat umak menumbuk daun ubi sambil
menunggu santan di tungku, sikodir dari tadi berangkat kesekolah bersama suara
pesawat dilangit jambur bergemuruh setelah makan nasi yang masih panas pake
santan mentah dicampur garam, sie irham asyik tertawa dengan ayam dan
merpatinya ia cumbui kadang orang-orang yang lewat mau kerja batu-bata ikut
terkekeh melihat irham mengolok-olok ayam dengan tangannya sorlah ada berass
digenggamannya membuat puluhan ayam ternaknya tertipu. Utung ternaknya tau
kalau irham tak dapat melihat jadi mereka seolah anak asrama sejabat
seperjuangan. Belum berkumur-kumur, masih cuci muka saja dengan secangkir air
ayah membersihkan mukanya dari minyak dan timbor lampu teplok mengepul
dihidungnya ayah sudah isap sebatang rokokyang dibakar pake api banggar tungku.
Kadang pas baru bangun tidur seolah merokok adalah do'a bangun tidur ayah. Dan
aku dari tadi pagi di repeti umak supaya menyapu rumah, melipat selimut,
menyusun bantal dan menggulung tikar, habis tu ambil air kesumur orang simutiah
baru cuci piring biar cepat brangkat ke kebun. Memang nasibku seperti anak tiri
saja, kalau kerja lebih banyak jobku, masalah makanan bagianku lebih sedikit,
dan tak pernah disanjung, bahkan pernah umak bilang kalau ada yang beli aku
dijual saja. Saat itu umak emosi karena aku lupa kerja akibat asyik bermain
dengan kawan-kawan di halaman umbah-umbah, main bola loncat dari asyar sampai
habis azan magrib.
Rupanya
secara diam-diam ayah punya hadiah untukku, sebuah cerita yang tak sabar ingin
ku dengarkan. Tapi sebelumnya ayah tanyak padaku setelah selesai makan malam
usai solat magrib tepat malam senen kami libur mengaji dirumah bapak ibrahim.
"
Jadi botul do raho sikola di pesantren ni buya i"
"
ra mantong ayah, au doma naso sikola, dongan-donganku sude madung
manyambungi"
"
nangkin kebetulan pasuo dohot buya saukani, jadi idokkon ayah naporan roamu
sikola di pesantren buyai, jadi idokkon ayah na payahan doba ngot manyogot i,
katapel songoni pondok nai,"
"
Hehhee, ma deges i uda, insya Allah lalu ia dei asal sabar ia ro doi raskina,
oban uda ma ancogot soudokon di buya bagas"
Buya
SK meyakinkan ayah dan mendukung minatku, setelah mendengar cerita itu, aku tak
sabar ingin menceritakannya pada teman-teman setamatan, rasanya mau meloncat
tinggi sangkin riangnya, tapi aku bisa menyembunyikan senyumanku di dalam
selimut putih karung tepung yang umak jahit empat karung menjadi satu, mampu
menutupi seluruh anggota tubuhku mulai dari ujung rambut hingga ujung induk
kakiku yg sudah tukkol. Rasya syukur ini menjulang tinggi, rupanya
lirik-lirikan bola mataku tadi kepesantren pas jalan kekebun pasir bulu itu
sebagai pertandanya, kalau Al-azhar Memanggil Cita-citaku. Kenapa
aku belum mengerti, setelah ayah menuntaskan cerita hadiah itu, akhirnya aku
jatuh cinta pada Al-azhar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar