Sabtu, 17 September 2016

TANGISAN HATI YANG TERJEBAK MASALAH


beginilah rasa penyesanlan itu datangnya di belakang waktu. aku tak pernah punya famili memiliki pendidikan tinggi, hingga aku trobos hanya mengiayakan saja apa kata orang, ketika aku diberi waktu sempit, rasa ini menggebu-gebu ingin kuliah, dimanapun universitasnya aku mau, isi do'akupun itu setiap saat ketika waktuku banyak yang terbuang pada tempatnya, aku ingin waktu yang tersia-sia itu ku pungut kembali, bahwa kenapa do'aku itu maqbulnya ketika terlanjur, aku menadu pada ilahi apa yang terjadi pada diriku. 

betapa lemahnya aku bermusyawarah terhadap keluargaku terutama kepada orangtuaku, yang hanya pendidikannya cuman SR, sehingga mereka tak mengerti dan tak faham apa itu kuliah, jadi ketika mereka dengar orang menyandang gelar sarjana, mereka berharap bahwa aku bisa juga, karena hanya aku harapan mereka satu-satunya yang lulus Aliyah. dan sama sekali mereka tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan gelar itu. yang mereka tau hanyalah sebatas sekolah saja dan biaya. tapi ketika aku butuh biaya, sulit rasanya bagiku untuk mencurhatkannya pada mereka, jika ku meminta bantuan mereka sama dengan aku menyiksa kedua orangtuaku. 

aku sudah terlanjur mengatakan telah mendaftar kuliah pada mereka, aku yakin hati mereka dikampung sangat bangga dan bahagia, semalam aku nelpon bahwa umak bilang aku tak usah mengirim uang asal aku kuliah, umak kirim beras dua tabung agar uang ditanganku tak di jajankan selain tambah uang pendaftaran kuliah saja, berat sekali airmata hati ini ingin jatuh menahan bagaimana ketiadaan biaya saat aku mau sekolah.

aku tak pernah melibatkan mereka dalam masalahku, karena hak mendapat pendidikan tak harus aku bebankan ayah dan umak walau itu tanggung jawab mereka, aku sangat terpuruk jika terus mencari uang, sementara tak pernah ku kirim uang pada kedua orangtuaku, aku bekerja keras dengan gaji pas-pasan, bagaimana aku bisa sambil kuliah. modal susah dapat mau buka usaha, cari kerja susah dengaqn gaji yang sangat menjanjikan pada orangtuaku. aku sangat terpuruk dalam hal ekonomi.

semalam aku menitikkan air mata ketika menyerahkan uang 640000 pada bagian keuangan, rasanya uang itu sangat berharga jika kukirim ke kampung, pertama aku menyesali karena mahasiswanya sedikit, kedua aku dapat informasi yang sudah terlanjur kuliah disitu hanya datang semaunya bahkan setiap ujian, lalu uang semester tetap bayar, secara akal sehat jika aku bisa kumpulkan uang delapan ratus dalam satuenam bulan, kenapa listrik dirumahku tidak bisa kulakukan untuk memasukkan listrik itu dengan uang tabunga sebanyak 800ribu.

tengah malam aku minta petunjuk pada ilahi dengan linangan air mata, hatiku sangat kencang berdeak menangisi nasibku yang seolah terjebak pada kuliah yang tidak sepantas di hati, aku terperangkap cantiknya kemasan kedua kalinya. kasiahn diriku yang begini malangnya. dalam sujud panjangku aku memohon padanya di beri hidayah, tapi mengapa aku meyesal segala perbuatan kesalahan dan kebodohanku. 

ayah dan umak berkata bahwa aku lebih mengerti dengan urusan pendidikan, mereka samasekali tidak tau, bolak-balik aku kemonitor komputer menanyakan google bagaimana nasib orang yang salah pilih jurusan, aku tidak salah jurusan, itu kemauanku, lalu aku tanya pada google bagaimana dikemudian hari aku pindah fakultas, jalani dulu yang sekarang, google menjawab, anda menyusahkan diri anda sendiri. lebih baik di awal mundur daripada kemudian hari menyesal. lalu apa alasanku pada dosennya setelah aku mendaftar baru menyesal. itu tadi alasanku bahwa mahasiswanya tak cukup 10 orang, aku sangat mudah terpedaya. 

lalu kenapa aku harus mencari yang lebih murah, ternyata yang murah itu tak selamanya enak dihati, aku terbiasa dengan sekolah gratis, tanpa sekolah gratis sebenarnya aku tak memiliki pendidikan yang lebih, lalu aku masuk kuliah terkendala oleh uang, setelah 10 tahun aku berencana kuliah toh,,, merasa sial entah apa yang terjadi pada pikiranku mersasa nyesal. tak bangga, malah di malam harinya aku tak sadarkan diri ketika sujud di sholat isya dan tahadjud menangis, menitiskan airmata ke atas sajadahku. aku memang sangat sakit hati pulang dari kampus itu.

bagaimana perasaan ayah dan umak yang sudah tau kalau aku telah mendaftar kuliah, lalu tak jadi ?
bagaimana kumenjawab pertanyaan teman-teman ketika mereka tau aku gagal di awal ?
aduh berat sekali, dan kenapa bodohnya aku sudah melihat mahasiswanya sangat sedikit, malah meneruskan menutupi kekurangan uang tersebut. aku begitu sesali. bodohnya aku.

ya.. Allah bantulah hambamu yang lemah tak berdaya ini, totol dan bodoh ini. apakah terus-terusan aku tersiksa begini. Ya Allah aku sangat berharap padamu smoga engkau mengampuniku. Amin.


Tidak ada komentar: