
1 SEPTEMBER 2016
Hari pertamaku mendaftar kuliah di sekolah tinggi ilmu ekonomi (STIE), aku sangat berharap mudah-mudahan Allah memberi berkah yang berlimpah padaku untuk meneruskan perjuangnku ini. sudah lama niatku terkurung untuk kuliah dimana saja pun kampusnya. setelah aku gagal jadi mahasiswa di UMTS gara-gara tidak punya duit. memang duit selalu menghalangi cita-cita. semati-matinya aku mencari duit selama 10 tahun tetap tak dapat. hingga muncul pada hatiku penyesalan, dan menyalahkan diri, betapa bodohnya aku yang memburu duit. sebenarnya aku mencarinya kemana-mana, semua itu karena aku ingin kuliyah. aku sangat cemburu melihat orang-orang punya pendidikan tinggi dan ber ilmu. aku ingin seperti mereka yang membahagiakan orangtuanya. itulah sebabnya aku lebih memilih untuk kuliah daripada menikah.
saat ini aku bekerja di warnet Pasidzone. sebelumnya aku minta sif pagi. selama 6 bulan ini aku sudah jalani hidup di warnet kerja pagi. dan dua rekanku sip siang dan malam, mereka ingin istirahat dulu dari warnet. mengingat banyakanya kegiatan sekolah membuat mereka capek setelah mengurus anak-anak sekolah disambung lagi kerja di warnet menghadapi anak-anak yang beragam tingkah wajar juga jika merka tak penuh jadwal, jadi fokus untuk mengajar di SMK teruna yang dipimpin pemilik warnet tempat kami kerja. jika mereka ful kerja, sama dengan full day school sesuai rencana menteri pendidikan yang baru ini gembor di indonesia.
meskipun umurku sudah 27 tahun lewat 45 hari, disini baru aku berencana untuk kembali kuliah, sepertinya ini panggilan hati, sekaligus menutupi kesalahan masa lajangku jika orang bertanya, apakah aku sudah nikah, jawabku lebih mudah bahwa aku masih fokus kuliah, maklum mahasiswa. insya Allah setelah jadi manusia sarjana baru rencana itu ada.
pukul 12:56 wib aku ajak seorang anak SMP 6 padangsidimpuan namanya Ali napia, dia tinggal di parsalakan, tapi sayangnya ia selalu lupa bawa salak padaku. setiap kali ia pulang sekolah, selalu mampir di warnetku. sama seperti teman-temannya yang lain, bedanya ia lebih akrab denganku, jadi aku tak sungkan ajak dia untuk menemaniku ke kampus STIE.
kami berjalan kaki dari pasidzone sampai ke kampus, ia sangat sabar dan rela waktu demi aku. dia seperti orang tua yang mendaftarkan anaknya. cuman karena ia masih pake seragam pramuka, mungkin orang pikir dia ada panggilan orang tua dari pihak sekolah. tapi kami santai saja berjalan dengan niat hanya menanyakan apakah pendaftaran STIE masih dibuka sekalian minta brosurnya.
sampai di gapuranya stie, keringat sudah bersusuran selama berjalan lebih dari 30 menit jalan kaki, kalau naik angkot bisa jadi sampai magrib ketujuan, itulah sebabnya kami memilih jalan kaki. sampai di pintu gerbang, ada seorang satpam ber pakaian rapi hitam celananya lengkap dengan sepatu hitam mulai berdebu, putih bajunya dimasukkan kedalam pinggang celana, kulit lelaki santpam itu tak kalah hitamnya dengan celana dan sepatunya.
aku bertanya pada lelaki hitam dan pendek itu informasi STIE apa masih dibuka pendaftaran, katanya masih dibuka sampai pertengahan september lalu ia persilahkan kami masuk sambil menunjuk ke arah ruangan atas kantor guru sekolah di lantai dua yang terbuka pintunya, aku dan ali berjalan sesuai petunjuk seperti cari pokemon go. naik dari ank tangga bangunan di tengah kampus ini menuju ruangan guru, aku sarankan ali ikut kedalam, tapi ia segan dan takut karena masih pakai selragam sekolah, jadi aku maklumi saja, dan akupun masuk sendiri langsung jumpa dengan seorang lelaki separuh aku.
lelaki itu tinggi besar, suka guyon, banyak bercanda, jadi aku merasa nyaman bersama mereka di ruangan ini, seolah aku telah pernah kerja atau berada lama disini. pas waktu pertama aku masuk ia menyapa tujuanku, aku hanya ingin minta brosur atau informasi stie apa masih penerimaan mahasiswa baru dibuka, ia lagsung bilang tanyakan saja padaku semua, buat apalagi brosur, sambil bercanda.
aku seperti di interviu abal-abal, yang di tanya nama dan marga, pas ku bilang Rangkuti, segala rangkuti ia perkenalkan absen guru-guru disini, berkebetulan di sampingnya ada lelaki cungkring bermarga parinduri, padahal marga bapak ini belum ku tau dari tadi, karena ada anak smknya ia panggil dan disuruh membawa berkas setebal tesis skripsi, ia tanya anak itu marganya apa, rupanya mereka sama-sama harahap. bapak ini tak rela kalau muridnya marga harahap dengan bercanda lagi ia sekali lagi menyalam perkenalan marga. ia ganti marganya dengan rangkuti anak itu bilang tetap harahap. jadi aku pikir pengen ya pak marganya diganti. heheh
mulai dari awal perkenalan, sampai selesai mengisi formulir ruangan itu penuh dengan suara candaan bapak itu, padahal aku tak pernah panggi dia bapak mulai aku masuk keruangan dilengkapi cctv dan bebrapa unit komputer didepannya ada satu mic sepertinya itu khusus pemanggilan nama yang belum lunas SPP seperti aku di pesantren dulu. ruangan ini memang kantor guru karena di lemarinya penuh dengan arsip buku laporan sekolah.
sebenarnya waktuku sangat cepat selesai, aku takut perasan si ali tidak enak di luar menungguku lama keluar, tapi gara-gara bapak ini bercanda terus, aku terbius oleh guyonannya dan tak neko-neko saat aku menanyak semua poin yang di perlukan saat jadi mahasiswa, cukup foto copy ijasah dan foto copi kartu keluarga lengkap dengan pas foto ukuran 3x4 = empat lembar ditambah 2x1,5 dua lembar, tinggal itu yang tidak lengkap, selanjutnya aku bayar uang daftar 150.000 ditambah Uang KTM Rp.15.000, persemester di tambah lagi iuran bem 30.000 per semester yang belum terbayar tinggal uang kuliah 480.000 + 160.00 uang praktek per semester.
saya rasa ini juga sangat mahal. melihat penghasilanku per bulannya hanya 500ribu, itupun belum bersih. belum lagi bayar SPP ke rumah. waduh.... pusing pala batman.
semua ini kuserahkan padamu ya ilahi robbi. LEHEN MA JAU EPENG SAGOHOK-GOHOK NA, ULANG BAEN AU PUTUS SIKOLA HARA NI NASUADA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar