Senin, 22 Agustus 2016

DIPINGGIRAN IBU KOTA METROPOLITAN

Hasil gambar untuk MAHDIAN TAMINCATATAN MAHDIAN- aku masih teringat pada satu keluarga di pinggir jalan menelusuri aspal beton demi mencari sesuap nasi, diantara polusi, hujan tak peduli, sengatan mentari, tanpa alas kaki si ayah menarik grobak mencari barang rongsokan, satu-persatu ia memulung sampah yang berceceran dipinggiran jalan hingga larut malam ia menarik grobaknya itu, tak tahan rasanya air mata ini membendung saat melihat istrinya sedang hamil terbaring di atas grobak yang ia bawa kesana kemari, dari sore aku ikuti sampai larut malam di tengah kota metropolitan,jakarta. wanita hamil tua terlihat kesakitan, namun ia berusaha tersenyum di depan dua anak kecilnya sepasang sambil menyuapi beberapa keping roti, sepertinya roti itu di hemat satu bungkus untuk satu minggu, karena satu keping bagi dua lalu di ikat kembali dengan karet gelang, alangkah pilunya melihat keluarga ini. saat itu nasib kami sama tanpa memiliki tempat, karena aku adalah pendatang baru di ibu kota, ingin mengadu nasib juga, tayangan pertama Allah perlihatkan padaku di ibu kota paling kejam ini adalah, kehidupan manusia tanpa tempat. Dimalam yang kelam, dingin, si ayah meminggirkan grobaknya dipinggiran jalan lalu melingkupkan tenda plastik diatas grobak itu, seperti tumpukan pisang di kampungku yang hendak di kirim pagi-pagi biasanya di angkut bus Als. sementara si bapak mengembangkan beberapa kardus di atas rumput basah embun malam lalu duduk bersandar ke sumbu roda grobaknya, kelihatan ia sangat capek, lelah, lemas dan lapar. ramai nian orang duduk sejajar melentangkan kardus masing-masing untuk istirahat, seolah berada di asrama beratap langit yang hendak hujan turun, diantara jejeran itu termasuk aku, ikut bersama mereka, duduk sendirian bersama rangsel berisi pakaian sholat dan foto copy surat penting seperti ijazah, kk, pas foto, dan ktp. kupeluk rangselku untuk mengurangi rasa dingin, berharap azan subuh cepat berkumandang agar aku bisa menyentuh air dengan gratis di kota jakarta ini. terasa sakit perut yang kutahan dari tadi lapar, menghemat uang selama aku belum dapat pekerjaan yang pasti, awan-awan hitam kupandangi, curhat bersama bintang-bintang yang tersisa, mereka juga belum tidur, selama aku belum ngantuk, bintang itupun malas pergi ketempat tidurnya, tapi malam semakin larut, bintang itu tak sempat pamitan karena ngantuk, tinggallah aku sendiri berusaha menutup mata, walau posisi sedang duduk di atas pecahan semen kasar yang terbuang. dalam tidur, aku bermimpi makan bersama dengan keluarga, umak yang tak biasanya membagi lauk ke piringku, kini ayah dan umak malah lebih berpihak padaku, bahkan adikku irham tersenyum seikit cemburu sambil bilang, anak kesayangan, belum kenyang rasanya makan minum pun belum sempat, umak mulai menyusun piring ingin mencucinya ke tapian alias air di mesjid, karena azan, rupanya subuh telah berkumandang untuk wilayah jakarta dan sekitarnya. ku terbangun penuh kesedihan setelah sadar bahwa aku sedang bermimpi. paling bingung, samping kiri-kanan orang-orang sudah menghilang semua, grobak-grobak tadi telah lenyap entah kemana, hanya tinggal asap-asap kardus dan koran, sisa bakaran semalam. untung saja aku terbangun dan mencari asal suara azan itu di masjid mana. namun masjid yang ku tau dari dulu di jakarta ini, hanya istiqlal. karena masih sepi dan belum macet aku bergegas ke arah masjid istiqlal untuk shalat subuh. sampai di masjid, permisi pada satpam menyapa kamar mandi arah mana, ia menunjuk, dan disitu ada petunjuk dilarang mandi, air ini khusus untuk berwudu'. lalu aku masuk toilet, disitu kubasahkan kaos dalam lalu tubuh ku lap, kaos itu kumasukkan lagi dalam plastik dan di taroh di tas, lalu wudu', naik ke atas barang bawaan di titipkan pada nazir yang bertugas, mereka berikan kartu berisi warning dan nomor. BKMnya ramahramah menyambut jama'ah dan mengatur shaf solat berjama'ah. usai sholat lalu mendengarkan kultum, sambil mendengarkan kultum aku baca-baca kartu nomor tersebut, di poin ke-3 ada pasal menerangkan "jika lebih dari 30 menit setelah kegiatan ibadah sholat pemegang kartu, akan di kenakan infak sebesar Rp.5000. tanpa mendengarkan kesimpulan kultum akupun berangkat dari atas sajadah lalu mengambil rangselku, melanjutkan petualang di ibu kota jakarta.

Tidak ada komentar: