Sabtu, 30 Juli 2016

PENGABDIAN AL-AZHAR 2009 DI DESA PEDALAMAN , DANAU SIAIS SAKSINYA

PENGABDIAN AL-AZHAR 2009, DANAU SIAIS SAKSINYA


Dokumentasiku : Madrasah roudotul 'ulum di ambil pada tanggal di foto. oleh mahdiantaminrangkuti.blogspot.com

Danau Siais Kenangan terindah Al-azhar Sepanjang sejarah al-azhar, alumni baru pertama TA.2009/2010 itu paling mewah perpisahannya. Kenangan ini Termasuk aku kawan". Kenalkan namaku mahdian tamin rangkuti, panggil saja mahdian agar tak mubadzzir nama, niscaya se al-azhar jambur pasti kenal bangat pemilik nama itu, saat ini masih jambangku yang mulai panjang dan lancip seperti ekor kalingrafi diwani jali. Tapi aku suka merawatnya sampai tebal dan memopeknya seperti khot khufi, itupun tebal karena hasil minyak buah kemiri, dimana saat kosong waktu kami bakar bareng-bareng di banjar podokan lalu di gosokkan ke piring kaleng agar hitam minyak kemirinya bisa dioleskan ke bagian pertumbuhan bulu jambang, kumis, dan jenggot. Kami berlomba-lomba lebih tebal jambang dan panjang jenggot, jika fokir tak punya jenggot biasanya di ejek jadi siti rahmah, dengan ancaman belum bisa ke makkah, karena kata buya bagas yang tidak punya jenggot di makkah, maka lelaki arab menganggap lelaki tak berjenggot itu Siti rahma alias wanita manis. Apalagi jenggot dan kumisku masih tumbuh halus , kau tak kalah dari teman sejabat separkomburan, semakin rajin ku mengoleskan berbagai minyak penumbuh jenggot meskipun tak pernah mencoba minyak firdaus, sebab tak mampu belinya, sementara alis mataku tebal memper seksi bola mataku yang di balut bulu mata tipis. Cuman senyumankulah yang patut di daftar asuransi, setiap lipatan senyumanku katanya memancarkan aura kasih sayang bahwa aku sangat ramah orangnya, kadang aku tak percaya, makanya saat berkaca, di depan cermin paling lama aku lihat adalah gigi indahku sambil senyam-senyumm didepan kaca,didalam hati memuji apakah benar kata orang “oh ternyata benar yah”, aha itu tak perlu dibahas, karena senyuman itu sedekah, tak usah di ceritakan lagi. Paling jengkel di depan kaca pas melihat wajahku sendiri, aku takut melihatnya, perasaan ini bukan aku. karena ini bukan kulit asli indonesia, sepertinya ini salah edit, kurang kontras jadi kulitku tergolong hitam manis, tapi jangan bilang aku hitam kawan, karna aku sangat marah menerima kenyataan ini.


Dipinggir DANAU SIAIS kami menghabiskan waktu bersama ayahanda buya mudir ma'had darul azhar jambur padang matinggi (H. HUSNI MUSTOFA SIREGAR) di pesantren beliau kami juluki dengan sebutan buya bagas atau buya mudir.

Tak satupun diantara kami yang mengetahui apa rencana buya kemana pengabdian kami paling cocok, cuman ada isu di asrama, bagi alumni tahun ini tak lagi mengajar di pesantren, apalagi dikirim ke medan bergabung dengan jama’ah tablig, karena pengalaman alumni sebelumnya banyak yang tak tahan, akhirnya kabur satu-persatu, seperti daunan kueni tua yang tak mati-mati sampai sekarang bertengger di dekat asrama al-azhar persis di depan mushollah dulu. Walau beberapa kali renovasi pembangunan mulai podok, kelas, asrama, kueni itu tak pernah mengganggu kecuali daunnya berjatuhan seperti cerita alumni tadi.
Bahan kombur tiap mala-malam fasca ujian, itulah pembahasan kami, dengar-dengar ada rumor tak sedap kalau foto-foto selfie ujian ketauan sama ummi bagas, disitu kami dapat ancaman akan di buat mengabdi ke sibara-bara, nama perkampungan itupun  barusaja kami dengar di telinga, lantas kami pun bertanya-tanya dimana sibara-bara itu, walaupun Dinding asrama fatayat dan fokir menghalang akan tetapi informasi itu tetap berhembus dari asrama fatayat kalau sibara-bara adalh nama tempat tinggal umi sawiyah, kakak kelas alumni 2008, sedikit banyaknya asrama fokir sudah tau gimana perawakan kakak sawiyah, orangnya baik, lugu, cantik, sopan anggun, putih, bersih dan segalanya “katanya”. Lantas kami menganggap bahwa sibara-bara itu desa yang hampir mirip dengan jambur padang matinggi, alamat al-azhar.

Ba’da isya, buya bagas mengumpulkan kami yang sepuluh Anaknya alumni tahun 2009, berdebar jantung ini saat panggilan itu kami dengar lewat pengumuman di mushollah. Khawatir kalau memang ada diantara kami yang ber foto-foto fasca UAN MAs Darul Azhar, kareana istilah yang berlaku di asrama, seorang makan semangka, getahnya kena semua. Diantara kami saling bertanya, tak satupun yang mengaku kalaupun ada. Segan terhadap teman tapi jika ini penyebab dipanggilnya kami berkumpul, betapa sesalnya seumur hidup melihat pelaku yang berfoto dengan fatyat, karena dia telah berani mencoreng al-mamter alumni tahun kami. Kelulusan tak perlu bagi ayahanda, ijazah tak berharga baginya, buktinya beliau tanpa ijazah bisa mendirikan pesantren, gratis lagi.
Satu persatu diantara kami bermunculan mendekati panggilan buya, saat mulai kami kerumuni buya, tak ada hal yang aneh, hanya saja beliau bahagia melihat anak-anaknya sudah tumbuh besar dan siap untuk di taburkan kemana-mana seperti janji al-azhar, ia mekar dan memberikan benih-benih pejuang ummat. dari raut wajah buya seolah ia ingin memeluk anak-anaknya yang dulunya masih kecil, mungil, dursun, lucu, dan setiap seorang anak sepuluh bertingkah yang berbeda, sekarang di sekelilingnya telah tumbuh dewasa, kuat, tangguh dan siap diantar keseluruh alam, ia menepis rasa cegengnya sebagai ayah dengan memberi semngat pada kami calon alumni.

  inilah daftar nama alumni kami 10 santri 2009/2010 :
NO
NAMA LENGKAP
ASAL
TEMPAT PENGABDIAN
1
Abdurrahmad Matondang
Tano Tiris , siabu, mandailing natal (madina)
Jambur Padang Matinggi
2
Aminullah Nasution
Hutaraja hapesong, siabu, madina
Sibara-Bara
3
Amru Siagian
Sibangkua, padangsidimpuan, Tapanuli Selatan(tapsel)
Sibara-Bara
4
Asrul Sani Nasution
Huta Godang Muda, siabu, madina
Sibara-Bara
5
Hadjan Ritonga
Sibangkua, padangsidimpuan,tapsel
Rianiate
6
Muhammad Rizk Lubis
Huta godang muda, siabu, madina
Rianiate
7
Maksum Ritonga
Suka dame, Panti, sumatera barat
Sibara-Bara
8
Mahdian TaminRangkuti
Jambur padang matinggi, panyabungan utara, madina
Simataniari
9
Safnuddin Kasim Siregar
Lopian, sibolga, tapanuli tengah (tapteng)
Simataniari
10
Safron Dalimunthe
Huta godang muda, siabu, madina
Rianiate

di musollah ini. kami dibekali untuk terus memperjuangkan “dakwah maksud hidup, pikir seluruh alam, siap diantar keseluruh alam” itulah nasehat buya yang sudah melekat di hati setiap santri Al-azhar, layaknya burung garuda indonesia yang tak pernah melepaskan selempang bertuliskan Bhin neka tunggal ika. Jika sempat terlepas, koyak, atau kotor, mesti takkan baru lagi, biasa jadi ia rusak, bahkan hilang, begitulah pengertiannya bahwa kami santri Al-azhar, keluar dari al-azhar layaknya seperti kertas putih yang di teteskan minyak ke atasnya, ia akan menyebar luas, tinggal kita yang memilih hidup, karena sebejad apapun santri, gelar santrinya takkan hilang sampai mati.

Kami menundukkan kepala mendengar nasehat ayahanda di sekelilingnya, khas buya menasehati anak-naknya bukan seperti di interview perusahaan, tapi suasananya sejuk tak tegang
“jadi buya, ancogot rangku kehe maita jolo…hee tujia buya, tu alak buya amruan, mambuat salak” yang tadinya kami merasa tegang karena serius mendengar panggilan buya supaya kelas tujuh berkumpul, akhirnya jadi margiri pas cerita dilemparkan pada amru, buya pun mengulangi tujuan sebenarnya.
“olo…biado buya,,,, angkon songoni do, tu alak buya amruan angkon kehe ita, tu alak buya utapulian kehe ita, oloh,,,,, harana buya-buya nagokan dope disi alak jiddul batil ningkalai ubege, oni  tu alak buya lopianan mambuat ikan kehe ita, ha aa onmada buya islami. Namarsaudaro ning nabinta goarna angkon namarsikunjungan do ita, anso momo ro rasoki I buya.
Jadi apa saja yang buya paparkan, melibatkan para actor-aktor al-azhar calon pengabdian, selalu mengundang tawa tapi berkesan serius, bahwa buya mengajrkan kami, meskipun sudah alumni, tammat, dan keluar dari pesantren, tapi persaudaraan itu tak boleh diputuskan, sebab silaturrahmi, adalah pembuka rezeki. Bukan saja itu moral yang buya tanamkan masih banyak lagi yang harus kami catat.
“nga songoni do tuan” buya menunjuk si maksum yg sepertinya dari tadi berharap disebutkan buya panti. “masondia do anggia arga ni pining I di panti, ipe nagodangan do harga na sannari ubege buya, jabat do mar goni dapot, na bisa me ongkos tumokah, ate bupati. Baru maksum agak berdarah dan tamba semangat mendengarkan buya setelah disebutkan nama kampungnya tapi ujung-ujungnya ke bupati juga, alias amru.
, segala tanggung jawab abang kelas tak lagi dibeban kan pada kami sudah hamper seminggu, seperti absen, membangunkan anak-anak, kebersihan, kecuali tugas di mesjid seperti imam dan azan, ayahanda bahkan menyuruh kami agar terbiasa jadi imam di pesantren agar diluar nanti bias menjadi imam shalat.

Roda hitam afv ini berngguling di aspal beton anatara asrama santri dan santriah menuju arah sidimpuan, daun-daun kelapa menutupi gedung al-azhar sekejap saja yang kupandangi dari balik kaca mobil terus melaju, lambaian tangan adik kelas teman sejabat seperjuangan menangis dikala tak ada belanja, tertawa saat datangnya orangtua. Lenyap. Dihilangkan turunan dan tikungan jalan keleiling jambur.

Sempat menjama' solat di musollah pom bensin simangambat-siabu, sebentar kami rehat hanya sekedar solat zuhur kemudian berangkat lagi meneruskan perjalanan menuju danau siais.
 Sampai di kota salak padang sidimpuan, ayahanda menghentikan mobil di depan rumah makan dekat sangkumpal bonang , kami benar-benar di manjakan buya dengan hidangan yang serba lezat dan gratis, segala yang ada di steleng tersusun rapat dimeja panjang rumah makan favorit buya ini, selain enak masakannya murah harganya, dan buya memberi tips di sela-sela makan berlangsung, "jika makan sebanyak ini jangan mengambil nasi banyak tapi lauknya diperbanyak, supaya tercicipi semua". Ala khas suara arabnya menambahkan "dan cara mengambil sum-sum didalam tulang belulang sop kambing cukup mencongkelnya pakai ujung sendok makan atau di isap pakai pipet" mengajari amru yang sok-soan pake garfu. Selain cuacanya mendukung, sopnya pedas dan maknyus. Keringatpun membasahi jubah yang dipakai seharian. Pedasnya bikin kepalaku gatal di dalam lobe berbalutkan sorban merah corak putih. Setelah menikmati menu traktiran buya, kami di bawa keliling halaman bolak karna buya ingin menambah isi dompetnya di bank muamalat dekat RM.horas.


Mobil kami melaju menuju arah batangtoru dan berhenti dipasar bator, mungkin buya belanja rempah-rempah atau mungkin kali ini buya benar-benar membawa kami menikmati wisata danau siais. Tapi aku agak ragu, saya rasa setelah bersenang-senang di danau siais, pasti cobaannya berat setelah ini. Entah apa, yang kuduga hanya pengabdian disana selama satu tahun seperti umat-umat al-azhar terdahulu, gumamku dalam hati sambil menikmati makana ringan yang kami beli warung ummi tadi pagi sebelum bergegas.

Diparsariran kami tak berhenti, padahal kami tergiur mandi disana, tapi posisi kami bersama buya, tak mungkin mengajak buya mandi ditempat serba bebas ini, mata kami hanya saling melirik tanpa suara di dalam mobil. Jangankan mandi dengan orang-orang yang liburan, nonton tv saja kami diharamkan, ini gara-gara si rizki dan si ajan, saat belajar tarekh di kelas musollah patayat, buya memutar serial arabic di nomor 220an, malah ditukar mereka ke ftv SCTV, adegan sang nonanya tersandung tiba-tiba si cowok menolongnya, akhirnya si cewek cantik jatuh dipelukan si cowok semakin di zoom hidung mereka hampir lengket, dan tiba-tiba buya langsung datang dan mematikan adegan tersebut. Kami diam tersipu bisu menanggung salah berat, hukumannya sama dengan makan buah khuldi, kami diusir dari kelas itu dan dipindahkan ke toko serba ada dulu. Sempit. Disudut bangunan antara kelas dan perkantoran dulu dari situulah patayat keluar masuk yang di sekat pakai tirai saja, jadi kalu patayat menuju hammam. Kesempatan emas bagi kami melihat patayat dari balik kaca hitam yang tak bisa dilihat orang dari luar. Kecuali matanya lengket ngintip kedalam, yang nampak duluan pasti sorbanku-dan kasim, karna sepasang bangku dan meja kami persis disitu. Lagianpun parsariran banyak aurat yang terbuka, tak mungkin kami bergabung mandi disitu memakai jubah, sorban dan rida', terlalu alim, meskipun di pinggirnya bertengger pesantren ahmad basyir, hukumya tetap haram bagi kami sebagai santri mandi disitu menurut undang-undang podok. 


Sekitar tiga menit berbalik arah kebelakang melewati jembatan lintas sumatra. Jln. sibolga-padangsidimpuan terpanjang ditapsel ini, kami masuk arah kiri kota padangsidimpuan memasuki kawasan perkebunan PT.Hapesong. Bukan kawan, kami bukan mau jadi buruh di pt. Perjalanan kami masih terus melaju hingga melewati beberapa perkampungan yang menumpuk-numpuk. Dibatasi oleh hamparan sawah, karet dan sawit, di beberapa kampung seperti sitanggiling, kami sempat yasinan di desa sirongit mengikuti persatuan dikampung ini. Kemudian simataniari, sangkunur, sibara-bara, dan rianiate. Rata-rata nama kampung di pedalaman ini di awali dengan SI. Menurut penelitian saya setiap kampung pedalaman pasti di awali SI.

Dari bukit di bawah kayu ara ini terbentang luas memanjakan mata pesona danau siais, kami mulai menuruni lembah ternyata masih jauh dari rianiate, jalannya kerikil terjal, batu-batu besar berhamburan dari badan jalan, turunan ini mematikan, separah jalan ini tanpa aspal tikungannya tajam. Mulut kamii komat-kamit mengucap kalimat-kalimat zikir yang di ajarkan ayah mu'min simaninggir saat pelajaran tauhid alamat ma'rifat karangan ayahanda tersebut. Ternyata rata-rata diantara kami semua masih takut mati, karna belum nikah mungkin.
Sampai di rianiate, lumayan lama disitu bermain dengan ikan jurung atau ikan ajaib, ada juga yang mengatakannya ikan karomah. Konon katanya ikan ini memiliki sifat manusia, mereka hanya mau makanan yang hasilnya halal, ikan ini dipercaya masyarakat bisa mengabulkan hajat, misalnya jodoh, rezeki, dan menyembuhkan penyakit. Cuma sekedar menanam janji di kerumunan ikan bersisik hitam ini lalu memberikan makanan ringan yang dijajahkan warung dekat mesjid itu apa saja dan berjanjilah untuk menjenguk mereka lagi jika benar-benar terwujud keinginan anda. Tapi dalam sudut pandangan agama islam, itu syirik namanya, meyakinkan nazar pada makhluk. Ada juga mengatakan jika menangkap ikan ini jngan sampai sisiknya terlepas, jika terjadi hal demikian, maka si pelaku mati jodoh, atau kena kiparat lainnya. Kemudian masyarakat setempat mengatakan ikan ini tak boleh dimakan. DiKisahkan ada anak sekolah yang hendak pramuka dipinggiran danau siais, dan mereka dilarang masyarakat utuk menangkap ikan ini apalagi memakannya, namun si anak ini nekat tak percaya dan mengabil ikan secara sembunyi-sembunyi ini. lantas memanggangnya di kem pramuka. Sepulang dari perkemahan, tiba-tiba perut anggota pramuka tersebut membesar seperti hamil 9 bulan. Setelah diperiksakan ke rumah sakit, dan di sesar, ternyata didalamnya ikan jurung yang dimakannya saat berkemah minggu lalu. Sumber cerita ini dari masyarakat saat saya penasaran dengan kata-kata bang hasan sibara-bara bahwa ikan ini tau uang haram-halal,"jika ikan ini memakannya berarti hasil uangnya halal dan ikhlas, tapi sebaliknya jika ikan ini tak memakannya berarati hasil uang anda berasal dari yang haram, cobalah di pagi hari, atau disiang hari. Makanya kalau ragu, jangan ikutan memberi makan ikan ini di saat ramai, karna kita malu sendiri jika tak dimakan ikan pemberian kita. Inilah cerita dongeng masyarakat yang saya kuti2 kemudian disusun.

Satu jam lebih bersama ikan jurung sebelum asyar diperjalan hari kedua, sabtu. Selebihnya kami menuruni lembah pemukiman rianiate Menuju Danau siais.

Subhanalloh,,,,,,,,
Pemandangan yang begitu menakjubkan di tengah hutan belantara ini, tak disentuh tangan jahil manusia, suara burung bebas berkicau beragam vocal, warna-warni daun di ranting pohon melambai-lambai mengucapkan marhaban kepada alumni al-azhar 2009, angin spoi meniupkan kelelahan kami mencari tempat ini, lalu menerpa telapak air, pantulan cahaya matahari bak hamparan permadani pantulan mentari di atas ombak-ombak danau yang tenang, bukit-bukit setia menjaga keindahan danau siais, sebuah saksi bagi kami yang sepuluh di tengah kasih sayang ayahanda buya mudir, mengajak kami memanggang ikan hasil penambak di danau ini, kelompok kami dibagi rata, ada yang memasak nasi, meresep lauk, dan mencari kayu bakar disekitar batu kara danau molek ini, aku dipilih memasak nasi didandang, tapi asrul sani mengambil peran itu, setelah air dimasukkan kedandang, lalu ia meletakkan saringan nasi terbalik, aku mempebaikinya, lalu dibantah keras sambil mengocehku sok tau. Aku terdiam dan ikut tim safron saja dan kasim, dari dulu kami bertiga selalu akrap dan saling mendukung sampai sekarang, kami putuskan cari kayu bakar saja. Ini adalah hal yang paling di hobi-i safron dari dulu, dalam hal naik dan meloncat. Ia kejam menaklukkan ranting-ranting pohon yang masak dari bukit batu kara yang tinggi, ia naik dengan cepat dan lihai mengalahkan monyet besar di filim kingkong yang kami ketengan membeli vcdnya. Selain dari suaranya yang merdu meniru muhammar za. Exsperimennya selalu berhasil dan memukau mulai dari kaligrafi hingga membuat sendok dari kayu agar ada pengaduk nasi didandang. Dari tadi belum matang-matang hampir setengah jam. Terakhir mereka satu persatu menyingkirkan diri dan di amanahkan kembali padaku yang sempat aku mengutuk nasinya takkan matang sampai kiamatpun jika saringannya teleng apalagi jatuh, benar dugaanku, sebagian berasnya masuk kedalam air panas dandang jadi bubur, ada yang setengah matang, dan bagian atas masih beras kering. Akhirnya bongkar pasang lagi, memperbaiki saringan dandang membuat ukuran airnya untuk sepuluh takar kaleng susu cap sapi, sekitar sepuluh menit, nasi terhidang di atas daun pisang yang dari tadi tak sabar menganga. Padahal ikannya dari tadi sudah duluan masak di tim rizki, cuman karna ke cheepan maksum sok membidangi ikan, di aduknya saat mendidih, ikannya jadi hancur seperti mencret yang dipatok ayam, mau tidak mau. Yang penting perut sudah lapar.

Kami menikmati masakan ala chef santri dipinggir danau siais, santai memandang tarian ombak-ombak di tiup angin sore, sedandang nasi sepanci ikan dinikmati bersama dengan ayahanda, membuat rasa kekeluargaan kami makin terasa, seandainya begini selamanya, tanpa terpisah apapun pasti, kamilah yang pertama kali dirindukan syorga, namun matahari lelah seharian bersinar, siang memisahkannya seteha asyar mengundang senja-senja merah disaat kami dalam perjalanan menuju maksud dan tujuan buya yang sebenarnya, bahwa kami bukanlah laskar pelangi, yang menghabiskan waktu di pinggir pantai bersama warna-warni pelangi, tapi kami adalah santri, sang pengabdi, yang siap jadi laskar da'I. Pesan buya yang kami pegang dari dulu hanyalah " dakwah maksud hidup, pikir seluruh alam, siap diantar keseluruh alam. Inilah maksud ceritaku tadi kawan. Smoga kita semua masih mengenang kebersamaan itu, mewujudkan rasa persaudaraan yang abadi, kemanapun kaki dilangkahkan, persahabatan kita, takkan bisa terganti, kecuali dengan syurganya ilahi.selamat & sukses sobatku semua

Tidak ada komentar: